Sabtu, 27 Februari 2016

Berkhayal Dalam Kata

Diposting oleh bilqis anisah di 03.23 0 komentar
Menjadi penulis adalah impian semua orang, termasuk saya. Dari kecil saya sudah menggemari dunia yang menurut sebagian orang membosankan, tapi sebagian lagi pasti mengimpikan. Saya belajar banyak tentang dunia kepenulisan dengan seseorang yang telah melahirkan dan membesarkan saya hingga saat ini. Ibu. Yah, Ibu saya memang gemar menulis. Telah banyak puisi yang beliau hasilkan di buku hariannya ketika masih belia, sama seperti saya. Puisi yang beliau ciptakan sangat indah menurut saya.

Menurut saya, menjadi seorang penulis sangat mudah. Semua orang bisa menjalaninya asal ada niat yang kuat dari dalam jiwa untuk berkarya. Menjadi penulis merupakan hal lumrah. Tidak perlu kriteria khusus untuk menggapainya. Cukup dengan berangan, bermimpi, lalu terbang membayang. Seakan hidup ini hanya kita yang menikmatinya.

Menjadi penulis sangatlah tidak sulit. Semua orang bisa menggapainya dengan mudah. Tidak ada batasan umur. Tapi, menjadi seorang penulis harus bisa mengerti perasaan pembaca. Bagaimana cara mereka menilai sebuah tulisan agar dianggap layak untuk dibaca. Bagaimana menilai sebuah tulisan agar bernilai dimata pembaca. Bagaimana agar tulisan dapat menyentuh hati pembaca. Semua itu memilki teknik yang tidak mudah. Jika kita hanya berbicara tentang menulis, itu sangatlah gampang. Tapi, jika kita berbicara tentang apa yang harus di tulis, itulah yang membuat kita harus berfikir beribu kali. Terutama jika kita belum mengetahui topik apa yang akan di tulis.

Mengapa kita harus menjadi penulis? Saya sendiri tidak memiliki jawaban yang pasti tentang pertanyaan tersebut. Tapi, yang terbesit di benak saya adalah bagaimana kita memiliki jejek kehidupan agar dapat di kenang jika kita sudah di panggil Tuhan, kelak.

Mengapa kita harus menjadi penulis adalah karena menulis dapat menyebarkan sisi positif untuk setiap perasaan yang kita rasakan. Agar apa yang kita rasakan tidak harus diucapkan dengan lisan. Apa yang kita inginkan tidak harus kita ungkapkan dengan kata-kata.

Dengan menulis kita dapat menuangkan berbagai macam khayalan, angan serta asa yang terbesit dalam fikiran agar dapat dituangkan sesuai dengan yang tergambar dalam bayangan kita. Saya sendiri lebih sering menulis tentang apa yang saya rasakan, fikirkan, yang tidak bisa diungkapkan dengan kata. Hanya tertuang lewat gerakan jemari dalam layar komputer.

Mengapa saya harus menjadi seorang penulis? Karena diri saya lebih senang menuangkan ide lewat tulisan. Saya ingin dikenang dengan karya yang sudah saya hasilkan jika nanti suatu saat saya di panggil untuk menghadapNya.


Palembang, 27 Februari 2016


Kamis, 25 Februari 2016

Jejak-jejak Langit

Diposting oleh bilqis anisah di 22.38 0 komentar
Pernah sesekali terlintas dalam angan dan masih membayang. Kenyataan bahwa diri ini memang tidak lebih baik dari sebelumnya menyadarkanku untuk terus berusaha menjadi yang terbaik. Ada waktu dimana aku sering kali lupa bersukur, bahwa Tuhan telah memberiku kehidupan sampai saat ini. Tuhan begitu baik telah memberikanku sebuah keluarga yang sangat mengerti, mengimbangi, mendukung bahkan rela berkorban untuk hidupku.

Pernah sesekali terlintas dalam angan, jejak-jejak langit masih melekat. Lambat laun memikat. Aku hanya sebutir debu yang terhalus, bahkan sempat tak terlihat jika dibandingkan dengan Tuhan yang Maha Besar. Tuhan Maha Bijaksana telah menciptakan makhluk sepertiku yang terkadang tak tahu di untung.
Pernah sesekali terlintas dalam angan, jejak-jejak langit yang membekas di awan. Menyadarkan betapa indah hidupku ini. Bahkan, sampai detik ini aku masih bisa menikamti secangkir kopi di tengah gerimis. Memandangi tiap tetes air yang jatuh dari langit. Bercengkrama, bercanda gurau, saling jatuh cinta dan tenggelam dalam raut wajah yang bebinar.

Aku masih bisa menikmati sinar mentari yang menyentuh kulitku lembut, kemudian menyapaku lewat jendela kamar dengan tirai yang sedikit terbuka. Terbias lewat kaca jendela, menyapaku dalam lelap.
Sampai saat ini, Tuhan masih mengizinkanku untuk bersandar dalam doaku padaNya. Masih mengizinkanku membuka mata setelah tidur panjang yang membuatku terjaga dalam penat.
Tuhan masih mengizinkanku menghirup nafas yang diberikanNya, mengizinkanku untuk terus jatuh cinta kepadaNya, bersujud dalam diam, meneteskan air mata dalan setiap doaku padaNya.

Tuhan terima kasih untuk hidup yang Kau berikan hingga saat ini. Terima kasih karena telah mengizinkan nafasku menjeda dalam jiwa yang kadang beku karena asaku. Terima kasih telah memberi harap pada langit gelap dengan menggantungkan rembulan agar aku bisa terjaga dalam lelap. Terima kasih yang teramat dalam, untukMu yang selalu dalam jiwaku.

Senin, 15 Februari 2016

Detak Detik Berdetak

Diposting oleh bilqis anisah di 23.36 0 komentar


Detak detik waktu berbisik merdu
Merajut sendu menggebu
Dendang berkobar dalam raga
Merajut asa dalam Sela
Rona merah merona menjadi tanda bahwa kita ada
Dalam jarak dan waktu yang masih sama
Dalam raga sejiwa kau ada
Laksana embun pagi menyapa mentari

Halo
Selamat pagi
Masihkah di dalam hati?
Hai
Aku rindu
Dalam jarak yang masih semu
Hei
Kau kah itu?
Dalam bahagia selalu membawa tawa
Dalam hening membalut luka
Kesetiaan atara kita selalu terjaga
Aku harap kau bisa bahagia
Padaku, pada hatimu dan pada kita

Dalam bayang semu
Wajah asa membiru
Kau merindu
Aku pun begitu

#bilqismenulis

 

Blog Bilqis Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea