Rabu, 27 Februari 2013

Aku, Kamu, KITA dan "Jarak"

Diposting oleh bilqis anisah di 05.09


Terlalu berat untuk berkompromi dengan jarak, begitu juga dengan diriku yang terlalu memaksa agar jarak dapat lebih memahami apa yang aku rasakan khususnya, KAMI. Yah, 2 tahun sudah aku menjalani hubungan ini dengannya. Panggil saja dia Deddy. Dialah lelaki yang selalu menemaniku dulu, jauh sebelum aku mengenal jarak hingga aku bersahabat dengan jarak meski terlalu memaksa.
Dia selalu membuat hidupku lebih berwarna. Selalu ada cerita disetiap pertemuan yang kami ciptakan. Senyum yang tak pernah membuatku jenuh sedikitpun. Kasih sayangnya yang tak pernah habis untukku.
Tapi sekarang, jarak telah membuat semuanya terasa tak seindah dulu. Kadang aku muak dengan jarak yang kami ciptakan sendiri. Aku muak. Ingin rasanya aku memberontak. Tapi siapa peduli? Jarak tak pernah mengerti arti cinta dan mencintai. Jarak egois. Tapi bukankah kami yang sebenarnya egois? Kami sendiri yang membuat keadaan menjadi seperti ini. Awalnya memang aku yang memutuskan untuk melanjutkan sekolahku ke luar kota. Aku fikir itu adalah hal yang biasa saja. Jauh tak jadi masalah. Tapi prediksi awalku salah. Jauh memang tak jadi masalah, tapi jarak? Lagi-lagi ia membuatku kesal. Kesal karena aku tidak bisa seperti dulu, yang hampir setiap hari menjalani hari-hariku bersamanya. Tertawa lepas, senyum lebar, foto bersama, bercanda ria, bahkan ketika aku bersedihpun dia selalu ada, saat aku menangis dia selalu mengusap air mataku dengan lembut. Sentuhan tangannya yang menyentuh jemariku kadang membuatku berfikir. Apakah dia benar-benar menyayangiku. Walaupun aku sering terlihat bodoh ketika aku menangis. Karena yang ku tahu, jika aku menangis wajahku tidak secantik aku tertawa. Yah, bisa dibilang aku terlihat sangat konyol, jelek, seperti anak ingusan. Terlau banyak kenangan indah yang kami ciptakan.
Kami sama-sama masih duduk di bangku kuliah dengan jurusan dan fakultas yang berbeda tentunya. Dan yang pasti di tempat yang berbeda pula. Dia di Palembang, dan aku di Lampung. Tak mudah menyamakan waktu untuk berbagi cerita. Kami sering sibuk dengan kegiatan kami masing-masing. Tak jarang salah satu di antara kami meributkan hal yang itu-itu saja. Pernah di satu waktu, tak ada sedikitpun kabar tentangnya yang membuatku menjadi bingung. Entah harus bertanya kepada siapa dimana posisinya sekarang. Sehingga pada suatu ketika dia baru menghubungiku dan memberitahuku kemana saja dia seharian ini. Tanpa fikir panjang, aku langsung emosi dan marah habis-habisan. Tanpa memikirkan perasaanya lagi. Ku fikir, siapa suruh dia seperti itu? Toh dia yang salah. Jadi, dia pantas-pantas saja mendapat omelanku yang mungkin tak ada habisnya ini. Aku marah. Aku kesal. Dan aku jengkel dengan sikapnya yang seperti itu. Dan akhirnya kamipun bertengkar hingga menimbulkan opini yang berbeda diantara kami. Sejam. Dua jam. Tiga jam dan akhirnya kami berdamai kembali. Begitulah yang sering terjadi. Maka, tak heran jika kami bertengkar dan baikan lagi. Itu sudah biasa.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Blog Bilqis Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea