Terlalu berat untuk berkompromi
dengan jarak, begitu juga dengan diriku yang terlalu memaksa agar jarak dapat
lebih memahami apa yang aku rasakan khususnya, KAMI. Yah, 2 tahun sudah aku
menjalani hubungan ini dengannya. Panggil saja dia Deddy. Dialah lelaki yang
selalu menemaniku dulu, jauh sebelum aku mengenal jarak hingga aku bersahabat
dengan jarak meski terlalu memaksa.
Dia selalu membuat hidupku lebih
berwarna. Selalu ada cerita disetiap pertemuan yang kami ciptakan. Senyum yang
tak pernah membuatku jenuh sedikitpun. Kasih sayangnya yang tak pernah habis
untukku.
Tapi sekarang, jarak telah membuat
semuanya terasa tak seindah dulu. Kadang aku muak dengan jarak yang kami
ciptakan sendiri. Aku muak. Ingin rasanya aku memberontak. Tapi siapa peduli? Jarak
tak pernah mengerti arti cinta dan mencintai. Jarak egois. Tapi bukankah kami
yang sebenarnya egois? Kami sendiri yang membuat keadaan menjadi seperti ini.
Awalnya memang aku yang memutuskan untuk melanjutkan sekolahku ke luar kota.
Aku fikir itu adalah hal yang biasa saja. Jauh tak jadi masalah. Tapi prediksi
awalku salah. Jauh memang tak jadi masalah, tapi jarak? Lagi-lagi ia membuatku
kesal. Kesal karena aku tidak bisa seperti dulu, yang hampir setiap hari
menjalani hari-hariku bersamanya. Tertawa lepas, senyum lebar, foto bersama,
bercanda ria, bahkan ketika aku bersedihpun dia selalu ada, saat aku menangis
dia selalu mengusap air mataku dengan lembut. Sentuhan tangannya yang menyentuh
jemariku kadang membuatku berfikir. Apakah dia benar-benar menyayangiku.
Walaupun aku sering terlihat bodoh ketika aku menangis. Karena yang ku tahu,
jika aku menangis wajahku tidak secantik aku tertawa. Yah, bisa dibilang aku
terlihat sangat konyol, jelek, seperti anak ingusan. Terlau banyak kenangan
indah yang kami ciptakan.
Kami sama-sama masih duduk di bangku
kuliah dengan jurusan dan fakultas yang berbeda tentunya. Dan yang pasti di
tempat yang berbeda pula. Dia di Palembang, dan aku di Lampung. Tak mudah
menyamakan waktu untuk berbagi cerita. Kami sering sibuk dengan kegiatan kami
masing-masing. Tak jarang salah satu di antara kami meributkan hal yang itu-itu
saja. Pernah di satu waktu, tak ada sedikitpun kabar tentangnya yang membuatku
menjadi bingung. Entah harus bertanya kepada siapa dimana posisinya sekarang. Sehingga
pada suatu ketika dia baru menghubungiku dan memberitahuku kemana saja dia
seharian ini. Tanpa fikir panjang, aku langsung emosi dan marah habis-habisan.
Tanpa memikirkan perasaanya lagi. Ku fikir, siapa suruh dia seperti itu? Toh
dia yang salah. Jadi, dia pantas-pantas saja mendapat omelanku yang mungkin tak
ada habisnya ini. Aku marah. Aku kesal. Dan aku jengkel dengan sikapnya yang
seperti itu. Dan akhirnya kamipun bertengkar hingga menimbulkan opini yang
berbeda diantara kami. Sejam. Dua jam. Tiga jam dan akhirnya kami berdamai
kembali. Begitulah yang sering terjadi. Maka, tak heran jika kami bertengkar
dan baikan lagi. Itu sudah biasa.



0 komentar:
Posting Komentar