“Huaaaahhhh! Aku gak lulus lagi, ma”. Aku tercengang melihat
pengumunan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri di koran.
“Yaudah, pokoknya mama gak tahu menahu, kamu harus masuk perguruan
tinggi negeri. Mama gak pengen kamu kuliah di universitas swasta. Mahal”. Mama
sudah sangat kesal. Ini kedua kalinya aku tes dan tidak lulus juga. Aku heran
dengan diriku sendiri. Aku yang terlalu bodoh atau soalnya yang terlalu rumit?
Apanya yang salah? Itulah pertanyaan yang terus menggerogoti otakku.
Aku terdiam. Nafasku terengah. Aku tidak tahu harus bagaimana
lagi. Aku berfikir keras, berusaha mencari beberapa perguruan tinggi negeri yang
masih membuka pendaftaran mahasiswa baru. Akhirnya, aku mendapatkan kabar dari
sepupuku tentang tes PMPD di Universitas Lampung. Segera ku lencangkan semangat
untuk mengikuti tes tersebut. Beberapa hari kemudian, aku berangkat menuju kota
Bandar Lampung. Kota yang pernah aku singgahi dulu ketika aku masih berumur
lima tahun. Aku bersekolah disana saat Taman Kanak-kanak, ya begitulah.
Aku bahagia harus kembali lagi ke kota ini. Suasananya tidak
seperti dulu. Sekarang, kota ini sudah ramai, sudah banyak fasilitas yang
memadai. Tetapi, pemandangannya tetap asri, masih seindah dulu. Aku berangkat
bersama ibuku. Menginap selama beberapa hari dirumah tanteku, tempat sepupuku
tinggal.
Aku ikut tes dan akhirnya aku lulus di Fakultas Ilmu Sosial dan
Ilmu Politik jurusan Diploma Perpustakaan dan Informasi. Aku merasa sangat
tidak nyaman dengan jurusan yang aku ambil. Aku tidak mengerti tentang masa
depanku jika aku berada di jurusan ini. Sangat tidak memuasku dan tidak masuk
akal. Bagaimana tidak, aku bersekolah di SMK jurusan Akuntansi dan sekarang aku
berkuliah di jurusan Perpustakaan dan Informasi. Sangat tidak sepadan. Aku
merasa malu, minder dan tidak percaya diri dengan keadaan ini. Keadaan dimana
aku selalu menutupi jurusanku jika ada salah seorang teman sekolahku bertanya.
Dulu, aku bercita-cita menjadi karyawan akuntansi di salah satu
perusahaan ternama di Indonesia. Bahkan, aku sempat ingin bercita-cita menjadi
seorang akuntan pajak. Tapi, sekarang cita-cita itu seolah hilang begitu saja.
Sulit rasanya membangkan aku harus menjadi pustakawan. Itu adalah hal yang
sangat tidak aku inginkan. Hal yang selalu dipandang orang sebelah mata. Hal
yang selalu dianggap orang sangat tidak penting untuk dijadikan sebagai
cita-cita.
Tetapi, disetiap kejadian pasti ada hikmahnya. Lain dulu lain
sekarang. Sekarang aku bertekad ingin menyelesaikan kuliahku. Masalah cita-cita
hanya waktu dan pengalaman yang dapat menentukan.

