Minggu, 26 Mei 2013

Salah Jurusan

Diposting oleh bilqis anisah di 18.43 1 komentar
“Huaaaahhhh! Aku gak lulus lagi, ma”. Aku tercengang melihat pengumunan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri di koran.
“Yaudah, pokoknya mama gak tahu menahu, kamu harus masuk perguruan tinggi negeri. Mama gak pengen kamu kuliah di universitas swasta. Mahal”. Mama sudah sangat kesal. Ini kedua kalinya aku tes dan tidak lulus juga. Aku heran dengan diriku sendiri. Aku yang terlalu bodoh atau soalnya yang terlalu rumit? Apanya yang salah? Itulah pertanyaan yang terus menggerogoti otakku.
Aku terdiam. Nafasku terengah. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Aku berfikir keras, berusaha mencari beberapa perguruan tinggi negeri yang masih membuka pendaftaran mahasiswa baru. Akhirnya, aku mendapatkan kabar dari sepupuku tentang tes PMPD di Universitas Lampung. Segera ku lencangkan semangat untuk mengikuti tes tersebut. Beberapa hari kemudian, aku berangkat menuju kota Bandar Lampung. Kota yang pernah aku singgahi dulu ketika aku masih berumur lima tahun. Aku bersekolah disana saat Taman Kanak-kanak, ya begitulah.
Aku bahagia harus kembali lagi ke kota ini. Suasananya tidak seperti dulu. Sekarang, kota ini sudah ramai, sudah banyak fasilitas yang memadai. Tetapi, pemandangannya tetap asri, masih seindah dulu. Aku berangkat bersama ibuku. Menginap selama beberapa hari dirumah tanteku, tempat sepupuku tinggal.
Aku ikut tes dan akhirnya aku lulus di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik jurusan Diploma Perpustakaan dan Informasi. Aku merasa sangat tidak nyaman dengan jurusan yang aku ambil. Aku tidak mengerti tentang masa depanku jika aku berada di jurusan ini. Sangat tidak memuasku dan tidak masuk akal. Bagaimana tidak, aku bersekolah di SMK jurusan Akuntansi dan sekarang aku berkuliah di jurusan Perpustakaan dan Informasi. Sangat tidak sepadan. Aku merasa malu, minder dan tidak percaya diri dengan keadaan ini. Keadaan dimana aku selalu menutupi jurusanku jika ada salah seorang teman sekolahku bertanya.
Dulu, aku bercita-cita menjadi karyawan akuntansi di salah satu perusahaan ternama di Indonesia. Bahkan, aku sempat ingin bercita-cita menjadi seorang akuntan pajak. Tapi, sekarang cita-cita itu seolah hilang begitu saja. Sulit rasanya membangkan aku harus menjadi pustakawan. Itu adalah hal yang sangat tidak aku inginkan. Hal yang selalu dipandang orang sebelah mata. Hal yang selalu dianggap orang sangat tidak penting untuk dijadikan sebagai cita-cita.
Tetapi, disetiap kejadian pasti ada hikmahnya. Lain dulu lain sekarang. Sekarang aku bertekad ingin menyelesaikan kuliahku. Masalah cita-cita hanya waktu dan pengalaman yang dapat menentukan.


Aku memilih cinta, dia, dan hatiku

Diposting oleh bilqis anisah di 18.40 0 komentar
Aku tahu ini cinta. Tapi, apakah setiap rasa yang aku punya harus aku pendam demi dia yang selalu ada untukku?
Aku tahu ini rindu. Tapi, apakah setiap rindu yang aku rasakan harus berujung pada air mataku sendiri?
Aku tahu semua rasa yang aku punya. Aku tahu atas rindu yang aku simpan setiap kali aku tak melihatnya bermain basket dan mengitari koridor sekolah. Aku merindukan rasa yang selama ini tersimpan rapi di dalam hati dan tak pernah bisa untuk aku nikmati. Aku merindukan dia yang  selalu aku impikan di setiap tidur malamku.
Ini adalah ceritaku. Cerita yang selalu aku ciptakan di setiap derap langkahku. Aku yang menjadi penulis skenario atas kejadian dalam hidupku. Singkatnya, aku yang memulai dan aku pula yang tahu jalan ceritanya akan berakhir dimana.
Senin lalu, aku bertemu dengannya ketika aku sedang berjalan menuju kantin sekolah bersama sahabatku, Ike. Seperti biasa, setiap kali Ian lewat di dekatku wangi collogenya selalu tercium, aku menyukainya. Dia tampan hari ini dengan seragam basketnya yang berwarna merah keunguan. Senyum manisnya menyentuh hatiku, lembut. Rasanya ingin terbang keawan membawa semua kebahagiaan yang aku punya.
“Eh, Ian ganteng deh hari ini” Ike mencetuskan kalimat itu dengan nada yang membuatku terbangun dari lamunanku.
“Iya” Aku hanya menjawab seadanya.
Aku duduk dibangku kantin sambil menyantap somai tahu dengan segelas teh hangat, sedangkan Ike hanya mengambil beberapa cemilan saja.
“Ri, kayaknya aku suka deh sama Ian” Ucapan Ike membuatku tersedak somai yang ku makan.
“Hah? Sejak kapan?” Tentu saja pertanyaanku itu sangat membuatnya kaget.
“Kenapa, Ri? Kaget?” Tanya Ike sedikit curiga.
“Ah? Enggak kok, cuma agak aneh aja. Biasanya kan lo cuek banget sama cowok” Kataku sedikit mengelak.
Percakapan kami hanya berhenti sampai disitu ketika Ian datang menghampiri. Wajahku sedikit memerah, malu.  Ian melihatku dan tersenyum. Aku membalas senyumnya dengan ikhlas dan polos. Pandanganku tertuju pada Ike yang sangat menikmati perbincangannya dengan Ian. Aku merasa hanya menjadi obat nyamuk saja disini.
“Ri, kok bengong sih?” Pertanyaan Ian membuyarkan semua lamunanku.
“Eh? Gak papa kok. Ya udah, mau ngomong apa sekarang?” Aku sedikit menantang.
“Ya ngomgongin kamu aja deh” Kata Ian sedikit meledek. Kamu? Sejak kapan Ian memanggilku dengan sebutan ‘kamu’?
“Maksudnya?” Aku bertanya karena aku memang tak mengerti.
“Aku suka sama kamu. Mau nggak jadi pacar aku?” Pernyataan itu bagai petir di siang bolong. Aku terkejut, tercengang, dan heran. Apakah ada yang salah dengan dirinya sehingga dia berkata seperti itu? Oh Tuhan. Disisi lain, aku tidak bisa menolak perasaaku yang selalu merindukan wajahnya untuk singgah kembali di hatiku.
Aku melihat wajah Ike yang sedih mendengar pernyataan Ian kepadaku tadi. Ia langsung berlari dan meninggalkan kami dalam hening. Sampai sekarang, aku tidak pernah bertemu dengannya lagi.

Dua tahun sudah kami berpacaran, menikmati mentari yang sama, dan aku bahagia menjadi bagian dari hidupnya dan melupakan sahabatku. Maaf, aku memang egois.


Sabtu, 25 Mei 2013

Rindu Kelabu

Diposting oleh bilqis anisah di 06.12 0 komentar
Mengapa aku cinta?
Karena aku terluka
Mengapa aku cinta?
Aku ingin bahagia

Purnama menampakkan senyum malu-malu
Aku terjaga dalam dekap hangat syahdu
Terbang menerawang menggapai mimpi
Yang melebur menjadi sebuah ilusi

Purnama menampakkan senyum malu-malu
Bersembunyi di balik awan abu-abu
Aku terdiam, terpaku
Inikah Rindu?

Mengapa aku rindu?
Aku ingin kamu
Mengapa aku tahu?
Karena ini untukmu

Senandungku Dalam Rindu

Diposting oleh bilqis anisah di 06.11 0 komentar
Aku terdiam mendengar senandungmu
Yang kadang membuatku sedikit jemu
Ada rasa di dalam hatiku yang ingin melebur menjadi satu
Memupuk keabadian di kala rindu

Aku jemu
Tapi aku rindu
Aku ingin bertemu

Aku diam didalam sunyi
Ingin hilang saja dari bumi!
Bosan dengan segala penat yang ada disini
Aku berharap kau singgah di hati

Namun itu sebuah harapan yang tak pasti
Yang mencoba menyimpulkan sebuah arti
Dimana letak kesetiaan yang abadi?
Apakah ada disini?
 

Blog Bilqis Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea