Minggu, 26 Mei 2013

Aku memilih cinta, dia, dan hatiku

Diposting oleh bilqis anisah di 18.40
Aku tahu ini cinta. Tapi, apakah setiap rasa yang aku punya harus aku pendam demi dia yang selalu ada untukku?
Aku tahu ini rindu. Tapi, apakah setiap rindu yang aku rasakan harus berujung pada air mataku sendiri?
Aku tahu semua rasa yang aku punya. Aku tahu atas rindu yang aku simpan setiap kali aku tak melihatnya bermain basket dan mengitari koridor sekolah. Aku merindukan rasa yang selama ini tersimpan rapi di dalam hati dan tak pernah bisa untuk aku nikmati. Aku merindukan dia yang  selalu aku impikan di setiap tidur malamku.
Ini adalah ceritaku. Cerita yang selalu aku ciptakan di setiap derap langkahku. Aku yang menjadi penulis skenario atas kejadian dalam hidupku. Singkatnya, aku yang memulai dan aku pula yang tahu jalan ceritanya akan berakhir dimana.
Senin lalu, aku bertemu dengannya ketika aku sedang berjalan menuju kantin sekolah bersama sahabatku, Ike. Seperti biasa, setiap kali Ian lewat di dekatku wangi collogenya selalu tercium, aku menyukainya. Dia tampan hari ini dengan seragam basketnya yang berwarna merah keunguan. Senyum manisnya menyentuh hatiku, lembut. Rasanya ingin terbang keawan membawa semua kebahagiaan yang aku punya.
“Eh, Ian ganteng deh hari ini” Ike mencetuskan kalimat itu dengan nada yang membuatku terbangun dari lamunanku.
“Iya” Aku hanya menjawab seadanya.
Aku duduk dibangku kantin sambil menyantap somai tahu dengan segelas teh hangat, sedangkan Ike hanya mengambil beberapa cemilan saja.
“Ri, kayaknya aku suka deh sama Ian” Ucapan Ike membuatku tersedak somai yang ku makan.
“Hah? Sejak kapan?” Tentu saja pertanyaanku itu sangat membuatnya kaget.
“Kenapa, Ri? Kaget?” Tanya Ike sedikit curiga.
“Ah? Enggak kok, cuma agak aneh aja. Biasanya kan lo cuek banget sama cowok” Kataku sedikit mengelak.
Percakapan kami hanya berhenti sampai disitu ketika Ian datang menghampiri. Wajahku sedikit memerah, malu.  Ian melihatku dan tersenyum. Aku membalas senyumnya dengan ikhlas dan polos. Pandanganku tertuju pada Ike yang sangat menikmati perbincangannya dengan Ian. Aku merasa hanya menjadi obat nyamuk saja disini.
“Ri, kok bengong sih?” Pertanyaan Ian membuyarkan semua lamunanku.
“Eh? Gak papa kok. Ya udah, mau ngomong apa sekarang?” Aku sedikit menantang.
“Ya ngomgongin kamu aja deh” Kata Ian sedikit meledek. Kamu? Sejak kapan Ian memanggilku dengan sebutan ‘kamu’?
“Maksudnya?” Aku bertanya karena aku memang tak mengerti.
“Aku suka sama kamu. Mau nggak jadi pacar aku?” Pernyataan itu bagai petir di siang bolong. Aku terkejut, tercengang, dan heran. Apakah ada yang salah dengan dirinya sehingga dia berkata seperti itu? Oh Tuhan. Disisi lain, aku tidak bisa menolak perasaaku yang selalu merindukan wajahnya untuk singgah kembali di hatiku.
Aku melihat wajah Ike yang sedih mendengar pernyataan Ian kepadaku tadi. Ia langsung berlari dan meninggalkan kami dalam hening. Sampai sekarang, aku tidak pernah bertemu dengannya lagi.

Dua tahun sudah kami berpacaran, menikmati mentari yang sama, dan aku bahagia menjadi bagian dari hidupnya dan melupakan sahabatku. Maaf, aku memang egois.


0 komentar:

Posting Komentar

 

Blog Bilqis Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea