Aku tahu ini cinta. Tapi, apakah setiap
rasa yang aku punya harus aku pendam demi dia yang selalu ada untukku?
Aku tahu ini rindu. Tapi, apakah setiap
rindu yang aku rasakan harus berujung pada air mataku sendiri?
Aku tahu semua rasa yang aku punya. Aku
tahu atas rindu yang aku simpan setiap kali aku tak melihatnya bermain basket
dan mengitari koridor sekolah. Aku merindukan rasa yang selama ini tersimpan
rapi di dalam hati dan tak pernah bisa untuk aku nikmati. Aku merindukan dia
yang selalu aku impikan di setiap tidur malamku.
Ini adalah ceritaku. Cerita yang selalu
aku ciptakan di setiap derap langkahku. Aku yang menjadi penulis skenario atas
kejadian dalam hidupku. Singkatnya, aku yang memulai dan aku pula yang tahu
jalan ceritanya akan berakhir dimana.
Senin lalu, aku bertemu dengannya ketika
aku sedang berjalan menuju kantin sekolah bersama sahabatku, Ike. Seperti
biasa, setiap kali Ian lewat di dekatku wangi collogenya selalu tercium, aku
menyukainya. Dia tampan hari ini dengan seragam basketnya yang berwarna merah
keunguan. Senyum manisnya menyentuh hatiku, lembut. Rasanya ingin terbang
keawan membawa semua kebahagiaan yang aku punya.
“Eh, Ian ganteng deh hari ini” Ike
mencetuskan kalimat itu dengan nada yang membuatku terbangun dari lamunanku.
“Iya” Aku hanya menjawab seadanya.
Aku duduk dibangku kantin sambil
menyantap somai tahu dengan segelas teh hangat, sedangkan Ike hanya mengambil
beberapa cemilan saja.
“Ri, kayaknya aku suka deh sama Ian”
Ucapan Ike membuatku tersedak somai yang ku makan.
“Hah? Sejak kapan?” Tentu saja
pertanyaanku itu sangat membuatnya kaget.
“Kenapa, Ri? Kaget?” Tanya Ike sedikit
curiga.
“Ah? Enggak kok, cuma agak aneh aja.
Biasanya kan lo cuek banget sama cowok” Kataku sedikit mengelak.
Percakapan kami hanya berhenti sampai
disitu ketika Ian datang menghampiri. Wajahku sedikit memerah, malu. Ian
melihatku dan tersenyum. Aku membalas senyumnya dengan ikhlas dan polos.
Pandanganku tertuju pada Ike yang sangat menikmati perbincangannya dengan Ian.
Aku merasa hanya menjadi obat nyamuk saja disini.
“Ri, kok bengong sih?” Pertanyaan Ian
membuyarkan semua lamunanku.
“Eh? Gak papa kok. Ya udah, mau ngomong
apa sekarang?” Aku sedikit menantang.
“Ya ngomgongin kamu aja deh” Kata Ian
sedikit meledek. Kamu? Sejak kapan Ian memanggilku dengan sebutan ‘kamu’?
“Maksudnya?” Aku bertanya karena aku
memang tak mengerti.
“Aku suka sama kamu. Mau nggak jadi
pacar aku?” Pernyataan itu bagai petir di siang bolong. Aku terkejut,
tercengang, dan heran. Apakah ada yang salah dengan dirinya sehingga dia
berkata seperti itu? Oh Tuhan. Disisi lain, aku tidak bisa menolak perasaaku
yang selalu merindukan wajahnya untuk singgah kembali di hatiku.
Aku melihat wajah Ike yang sedih
mendengar pernyataan Ian kepadaku tadi. Ia langsung berlari dan meninggalkan
kami dalam hening. Sampai sekarang, aku tidak pernah bertemu dengannya lagi.
Dua tahun sudah kami berpacaran,
menikmati mentari yang sama, dan aku bahagia menjadi bagian dari hidupnya dan
melupakan sahabatku. Maaf, aku memang egois.


0 komentar:
Posting Komentar