Rabu, 01 Juni 2016

Tak Sepantasnya Cinta

Diposting oleh bilqis anisah di 08.48 0 komentar


Soal cinta, aku memang bukan ahlinya. Kadang sering kali lupa meninggalkan jejak kata saat cinta berpisah. Kadang sering kali lupa menitipkan pesan saat cinta akan pergi. Kadang aku tak tahu apa yang harus aku warisi saat cinta sudah tak disini.

Soal cinta, aku terlalu bodoh. Bodoh, meninggalkannya pergi begitu saja. Bodoh, tak bisa menahannya untuk sesaat saja berada disini. Bodoh, aku memang bukan ahlinya yang pakar dalam menerjemahkan kata cinta.
Soal cinta, tak sepantasnya aku menyandingkan diri untuk dibandingkan. Tak sepantasnya aku berdiri tegak saat cinta hanya datang sesaat. Tak sepantasnya aku menatap jika memang cinta sudah tak melekat.

Aku malu pada diriku saat cinta menatap namun hatiku tak tersirat. Aku malu saat cinta berkata rindu namun hatiku tetap sendu.

Lalu, apa yang cinta inginkan? Diriku? Atau hanya angan semu?

Kamis, 26 Mei 2016

Untukmu yang lebih dulu merindu

Diposting oleh bilqis anisah di 21.58 0 komentar
Untukmu, yang lebih dulu merindu
Sampaikan salamku pada angin yang datang membawamu kemari sampai lupa diri
Sampaikan salamku pada nyanyian burung yang menghantarkan hadirmu disini
Sampaikan salamku pada aroma parfummu yang merindu
Sampaikan salamku pada jiwa yang menungguku dalam semu

Untumu, yang lebih dulu merindu
Aku tahu ini kelabu
Kelam tak terbayang oleh waktu
Aku tahu ini hanya sebuah angan yang membawa di bawah lukisan
Lukisan namamu di dalam hatiku

Untukmu, yang lebih dulu merindu
Aku tak bisa tahan, bahwa aku juga merindu

Setengah Logika

Diposting oleh bilqis anisah di 21.38 0 komentar


Aku tahu, aku tahut kehilangan
Terutama jika aku kehilanganmu
Aku tahu, aku takut ketinggian
Tapi jika berada denganmu walau di ketinggian ribuan mil pun rasanya aku sanggup
Aku tahu, aku takut jatuh cinta
Terutama jika kau adalah orangnya

Aku tahu, aku cinta
Terutama dengamu
Aku tahu, Aku rindu
Aku ingin kamu
Aku tahu, semua palsu
Setengah logikaku hanyalah semu

Antara Cinta, Siapakah Aku?

Diposting oleh bilqis anisah di 21.21 1 komentar



Lalu, harapan itu kembali sirna
Jatuh ke peraduan
Tempat keluhan yang terbaik ada pada hatimu
Lagi-lagi, hatimu

Lalu, setia itu sudah berujung
Tanpa genggam harap
Tanpa rasa bimbang
Meleburkan asa yang kembali singgah

Lalu, rasa ini menghilang
Berpacu dalam kepingan waktu
Bersatu, kembali semu

Lalu, di antara cinta
Siapakah aku?

Aku Ingin Satu Purnama Lagi

Diposting oleh bilqis anisah di 06.53 0 komentar

Ingatkah saat langkah kita berpaut satu demi satu
Menuju singgah sana yang menghantarkan kita pada tempat yang sama di tengah purnama
Ingatkah pada nyanyian indah yang berdetak lemah
Meninggalkan jejak kesedihan, membalut asa dalam simponi cerita kita
 
Kita melangkah dalam angan yang kian terbayang
Menghanyutkan mimpi yang hampir sirna di tengah keramaian
Menepiskan semua harap yang sudah kita atur sedemikian rupa
Namun nyatanya semua sirna
Hilang tanpa bekas
 
Aku lupa bahwa kita sudah sama sama melewatinya
Aku ingin satu purnama lagi, sekali saja
Mengulang kenangan indah itu bersamamu
Lalu menua

Sabtu, 27 Februari 2016

Berkhayal Dalam Kata

Diposting oleh bilqis anisah di 03.23 0 komentar
Menjadi penulis adalah impian semua orang, termasuk saya. Dari kecil saya sudah menggemari dunia yang menurut sebagian orang membosankan, tapi sebagian lagi pasti mengimpikan. Saya belajar banyak tentang dunia kepenulisan dengan seseorang yang telah melahirkan dan membesarkan saya hingga saat ini. Ibu. Yah, Ibu saya memang gemar menulis. Telah banyak puisi yang beliau hasilkan di buku hariannya ketika masih belia, sama seperti saya. Puisi yang beliau ciptakan sangat indah menurut saya.

Menurut saya, menjadi seorang penulis sangat mudah. Semua orang bisa menjalaninya asal ada niat yang kuat dari dalam jiwa untuk berkarya. Menjadi penulis merupakan hal lumrah. Tidak perlu kriteria khusus untuk menggapainya. Cukup dengan berangan, bermimpi, lalu terbang membayang. Seakan hidup ini hanya kita yang menikmatinya.

Menjadi penulis sangatlah tidak sulit. Semua orang bisa menggapainya dengan mudah. Tidak ada batasan umur. Tapi, menjadi seorang penulis harus bisa mengerti perasaan pembaca. Bagaimana cara mereka menilai sebuah tulisan agar dianggap layak untuk dibaca. Bagaimana menilai sebuah tulisan agar bernilai dimata pembaca. Bagaimana agar tulisan dapat menyentuh hati pembaca. Semua itu memilki teknik yang tidak mudah. Jika kita hanya berbicara tentang menulis, itu sangatlah gampang. Tapi, jika kita berbicara tentang apa yang harus di tulis, itulah yang membuat kita harus berfikir beribu kali. Terutama jika kita belum mengetahui topik apa yang akan di tulis.

Mengapa kita harus menjadi penulis? Saya sendiri tidak memiliki jawaban yang pasti tentang pertanyaan tersebut. Tapi, yang terbesit di benak saya adalah bagaimana kita memiliki jejek kehidupan agar dapat di kenang jika kita sudah di panggil Tuhan, kelak.

Mengapa kita harus menjadi penulis adalah karena menulis dapat menyebarkan sisi positif untuk setiap perasaan yang kita rasakan. Agar apa yang kita rasakan tidak harus diucapkan dengan lisan. Apa yang kita inginkan tidak harus kita ungkapkan dengan kata-kata.

Dengan menulis kita dapat menuangkan berbagai macam khayalan, angan serta asa yang terbesit dalam fikiran agar dapat dituangkan sesuai dengan yang tergambar dalam bayangan kita. Saya sendiri lebih sering menulis tentang apa yang saya rasakan, fikirkan, yang tidak bisa diungkapkan dengan kata. Hanya tertuang lewat gerakan jemari dalam layar komputer.

Mengapa saya harus menjadi seorang penulis? Karena diri saya lebih senang menuangkan ide lewat tulisan. Saya ingin dikenang dengan karya yang sudah saya hasilkan jika nanti suatu saat saya di panggil untuk menghadapNya.


Palembang, 27 Februari 2016


Kamis, 25 Februari 2016

Jejak-jejak Langit

Diposting oleh bilqis anisah di 22.38 0 komentar
Pernah sesekali terlintas dalam angan dan masih membayang. Kenyataan bahwa diri ini memang tidak lebih baik dari sebelumnya menyadarkanku untuk terus berusaha menjadi yang terbaik. Ada waktu dimana aku sering kali lupa bersukur, bahwa Tuhan telah memberiku kehidupan sampai saat ini. Tuhan begitu baik telah memberikanku sebuah keluarga yang sangat mengerti, mengimbangi, mendukung bahkan rela berkorban untuk hidupku.

Pernah sesekali terlintas dalam angan, jejak-jejak langit masih melekat. Lambat laun memikat. Aku hanya sebutir debu yang terhalus, bahkan sempat tak terlihat jika dibandingkan dengan Tuhan yang Maha Besar. Tuhan Maha Bijaksana telah menciptakan makhluk sepertiku yang terkadang tak tahu di untung.
Pernah sesekali terlintas dalam angan, jejak-jejak langit yang membekas di awan. Menyadarkan betapa indah hidupku ini. Bahkan, sampai detik ini aku masih bisa menikamti secangkir kopi di tengah gerimis. Memandangi tiap tetes air yang jatuh dari langit. Bercengkrama, bercanda gurau, saling jatuh cinta dan tenggelam dalam raut wajah yang bebinar.

Aku masih bisa menikmati sinar mentari yang menyentuh kulitku lembut, kemudian menyapaku lewat jendela kamar dengan tirai yang sedikit terbuka. Terbias lewat kaca jendela, menyapaku dalam lelap.
Sampai saat ini, Tuhan masih mengizinkanku untuk bersandar dalam doaku padaNya. Masih mengizinkanku membuka mata setelah tidur panjang yang membuatku terjaga dalam penat.
Tuhan masih mengizinkanku menghirup nafas yang diberikanNya, mengizinkanku untuk terus jatuh cinta kepadaNya, bersujud dalam diam, meneteskan air mata dalan setiap doaku padaNya.

Tuhan terima kasih untuk hidup yang Kau berikan hingga saat ini. Terima kasih karena telah mengizinkan nafasku menjeda dalam jiwa yang kadang beku karena asaku. Terima kasih telah memberi harap pada langit gelap dengan menggantungkan rembulan agar aku bisa terjaga dalam lelap. Terima kasih yang teramat dalam, untukMu yang selalu dalam jiwaku.

Senin, 15 Februari 2016

Detak Detik Berdetak

Diposting oleh bilqis anisah di 23.36 0 komentar


Detak detik waktu berbisik merdu
Merajut sendu menggebu
Dendang berkobar dalam raga
Merajut asa dalam Sela
Rona merah merona menjadi tanda bahwa kita ada
Dalam jarak dan waktu yang masih sama
Dalam raga sejiwa kau ada
Laksana embun pagi menyapa mentari

Halo
Selamat pagi
Masihkah di dalam hati?
Hai
Aku rindu
Dalam jarak yang masih semu
Hei
Kau kah itu?
Dalam bahagia selalu membawa tawa
Dalam hening membalut luka
Kesetiaan atara kita selalu terjaga
Aku harap kau bisa bahagia
Padaku, pada hatimu dan pada kita

Dalam bayang semu
Wajah asa membiru
Kau merindu
Aku pun begitu

#bilqismenulis

 

Blog Bilqis Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea