Untukmu, yang lebih dulu merindu
Sampaikan salamku pada angin yang datang membawamu kemari sampai lupa diri
Sampaikan salamku pada nyanyian burung yang menghantarkan hadirmu disini
Sampaikan salamku pada aroma parfummu yang merindu
Sampaikan salamku pada jiwa yang menungguku dalam semu
Untumu, yang lebih dulu merindu
Aku tahu ini kelabu
Kelam tak terbayang oleh waktu
Aku tahu ini hanya sebuah angan yang membawa di bawah lukisan
Lukisan namamu di dalam hatiku
Untukmu, yang lebih dulu merindu
Aku tak bisa tahan, bahwa aku juga merindu
Sebab Aku Cinta
Buku antologi kedelapan dari Pena Indis
Kisah di balik Sosial Media
Buku antologi ketujuh dari Probi Media
Ayah Ajari Siapa Aku!
Buku antologi keenam dari Pena Indis
Ketika Ijab Qobul Terucap
Buku antologi kelima dari Gema Sastra Publishing
Menggapai Impian
Buku antologi keempat dari Asrifa Publishing
Dreamland of Fantasy
Buku antologi ketiga dari Pustaka Jingga
Perjuangan Hidupmu Inspirasiku
Buku antologi kedua dari GP Publishing
First Writing
Translate
Cari Blog Ini
Popular Posts
About Me
- bilqis anisah
- Seorang ASN di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan. Memiliki hobi menulis dan memasak. Sebenarnya, apapun yang dilakukan jika ada doa dan usaha didalamnya akan menjadi berkah untuk kehidupan kelak.
Blogger templates
Kamis, 26 Mei 2016
Setengah Logika
Aku tahu, aku tahut kehilangan
Terutama jika aku kehilanganmu
Aku tahu, aku takut ketinggian
Tapi jika berada denganmu walau di ketinggian ribuan mil pun
rasanya aku sanggup
Aku tahu, aku takut jatuh cinta
Terutama jika kau adalah orangnya
Aku tahu, aku cinta
Terutama dengamu
Aku tahu, Aku rindu
Aku ingin kamu
Aku tahu, semua palsu
Setengah logikaku hanyalah semu
Categories
Puisi
Antara Cinta, Siapakah Aku?
Jatuh ke peraduan
Tempat keluhan yang terbaik ada pada hatimu
Lagi-lagi, hatimu
Lalu, setia itu sudah berujung
Tanpa genggam harap
Tanpa rasa bimbang
Meleburkan asa yang kembali singgah
Lalu, rasa ini menghilang
Berpacu dalam kepingan waktu
Bersatu, kembali semu
Lalu, di antara cinta
Siapakah aku?
Categories
Puisi
Aku Ingin Satu Purnama Lagi
Ingatkah saat langkah kita berpaut satu demi satu
Menuju singgah sana yang menghantarkan kita pada tempat yang sama di tengah purnama
Ingatkah pada nyanyian indah yang berdetak lemah
Meninggalkan jejak kesedihan, membalut asa dalam simponi cerita kita
Menuju singgah sana yang menghantarkan kita pada tempat yang sama di tengah purnama
Ingatkah pada nyanyian indah yang berdetak lemah
Meninggalkan jejak kesedihan, membalut asa dalam simponi cerita kita
Kita melangkah dalam angan yang kian terbayang
Menghanyutkan mimpi yang hampir sirna di tengah keramaian
Menepiskan semua harap yang sudah kita atur sedemikian rupa
Namun nyatanya semua sirna
Hilang tanpa bekas
Menghanyutkan mimpi yang hampir sirna di tengah keramaian
Menepiskan semua harap yang sudah kita atur sedemikian rupa
Namun nyatanya semua sirna
Hilang tanpa bekas
Aku lupa bahwa kita sudah sama sama melewatinya
Aku ingin satu purnama lagi, sekali saja
Mengulang kenangan indah itu bersamamu
Lalu menua
Aku ingin satu purnama lagi, sekali saja
Mengulang kenangan indah itu bersamamu
Lalu menua
Categories
Puisi
Langganan:
Komentar (Atom)




