Musim salju telah
tiba. Aku akan berangkat menuju negeri impianku yang bernama Samara bersama
Dave, sahabatku. Kami naik kereta pukul sembilan malam. Dengan mengenakan jaket
kulit coklat dan sepatu hitam pemberian kakekku kami berjalan menuju ruang tunggu
di sebuah stasiun kereta. Lima belas menit berlalu akhirnya kereta yang kami
tunggu pun tiba. Kami segera memasuki gerbong kereta dengan gembira.
“Hei, Dave. Apakah
kau senang?”, tanyaku.
“Tentu saja. Bagaimana
denganmu?”, dia balik bertanya.
“Yah, sedikit lega
setelah lima belas menit menunggu”, aku sedikit tertawa bahagia. Kami menikmati
malam musim salju di dalam kereta. Memandang ke arah jendela dan mendapati
pemandangan lampu warna-warni yang bersinar di tengah gelapnya malam, sangat
istimewa hari ini.
Tooonnnnn...tooonnnn...
Suara kelakson
kereta berbunyi dengan sangat kencang. Membangunkan semua orang yang sedang
terlelap. Aku merasakan sesuatu yang aneh. Posisi kereta mulai tak tentu arah. Jalannya
sudah tidak teratur. Ada apa ini? Tanyaku dalam hati. Aku segera membangunkan
Dave yang masih tertidur lelap.
“Dave, bangun. Sepertinya
kita dalam bahaya”, kataku.
Dave segera berdiri
dan menenangkanku. Dikejauhan terdengar suara bayi yang sedang menangis, dan
orang-orang yang ada di dalam gerbong mulai berteriak ketakutan. Begitupun denganku.
Tanpa di sadari kereta yang kami tumpangi sudah dalam keadaan miring. Aku sangat
takut, terlebih lagi sekarang sudah dalam keadaan gelap. Pukul dua pagi. Aku memeluk
Dave erat.
Duaaaaarrrrr...
Kereta yang kami
tumpangi terjun ke sebuah sungai yang sangat dalam. Aku tidak bisa melihat
Dave. Sebisa mungkin aku tetap berenang dan terus berenang sampai akhirnya aku
menemukan sebuah Istana yang sangat megah. Mataku terpana. Inikah negeri
Samara? Seperti kata kakek dan buku sejarah?


.jpg)
0 komentar:
Posting Komentar